
Detik itu senja. Aku memang berencana hendak menghabiskan waktu di pantai, menemui senja. Pilihan jatuh ke pantai Depok. Karena pantai ter-barat untuk melihat senja. Mungkin seperti itu. Hari itu aku berencana untuk menutup sunrise yang pernah kita buka berkali-kali. Semacam itu adalah hal romantis dan menyenangkan. Dan cinta itulah bersemi di setiap sunrise. Mungkin kita sama-sama sadar bahwa kita tak bisa memiliki. Kita sadar, bahwa kita tidak saling cocok untuk hidup bersama. Kami berdua-pun sadar, banyak hal yang membuat kami harus saling melepaskan. Dan aku pun masih sadar, aku masih menyayangi ia, yang begitu sangat menyebalkannya. Hari itu, kami bercerita tentang dua minggu yang telah kami lalui tanpa bersama-an lagi. Kami bercerita. Nyatanya kami masih bisa hidup meskipun tak bersama. Meski terkadang rasa ingin tahu begitu membahana di hati, ingin tahu, apa yang sedang ia lakukan di sana tanpaku. Apakah dia masih malas bangun pagi jika begadang terlalu larut, apakah dia peduli akan jadwal makannya, apakah dia masih suka fitness dengan rutin di hari senin rabu jumat, apakah motornya masih suka mogok dan dia berhasil membenarkannya, apakah dia masih ingat sholat ketika menginap di rumah temannya, apakah dia ingat tugas tugas yang kadang lalai ia kerjakan, apakah dia sudah mencuci piringnya yang tertumpuk di pojok kamarnya, apakah dia masih suka teledor akan barang-barang yang berceceran di kamarnya, apakah dia masih ingat waktu sholat subuh, apakah dia masih ingat seharusnya melipat baju seusai dijemur, tidak diumbruk di pojok kamar. Ah terlalu banyak yang aku masih ingin tahu dari kegiatan sehari-hari-nya.
Entah, mungkin dia yang di sana masih seperti itu. Begitu banyak hal kecil yang terlalu manis untuk aku lupakan, saat-saat ketika kami hendak wudhu, sekedar aku mampir bermain kelinci terlebih dahulu. Sekedar main ciprat-ciprat-an air, sekedar membatalkan dia yang wudhu nya hampir selesai sehingga aku selalu dipersilahkan untuk wudhu terlebih dahulu, atau sekedar cubit-cubit-an ketika hendak takbir, sekedar merengek manja ketika kesal karena tak mulai-mulai sholatnya, sekedar melempar mukena aku meminta ia melipatkannya, atau sekedar saling mengganggu ketika kami sedang menonton televisi bersama. Atau, salim sebagai tanda “terimakasih sudah menjadi imam ku kali ini”.
Atau masih kuingat, bagaimana dia menolongku ketika ia tau,aku jatuh dari motor, berkali-kali aku jatuh. Licin karena di depan kosnya habis hujan. Dia langsung berlari menolongku, dan aku? aku bengong meninggalkan motorku yang terpuruk jatuh, sembari memasang wajah memelas. Iya, aku menahan sakit memar di kakiku. Aku masih ingat bagaimana wajah dia, sembari mengusap kepalaku. Seperti bilang “Ya allah kok bisa, tapi nggak apa-apa kan” Dan dengan wajah sok-imut aku sembari menggelengkan kepala.
Dia yang terkadang teramat sangat menyebalkan, suka bertingkah seperti anak kecil, sama sepertiku, yang masih terlampau sering kami merengek kesal akan sesuatu hal. Kami yang jika sedang kesal tak ingin saling-bicara, sama-sama saling menundukkan wajah, tak mau menatap satu-sama-lain, karena menatapmu itu sama seperti melupakan masalah yang baru terjadi dan benar-benar ingin melupakannya. Sedangkan masalah seharusnya diselesaikan,kan?
Sore itu kami menatap senja, bersamaan, sitting on the edge of beach. Tahu tidak. Selepas adzan maghrib, awan beterbangan entah kemana, sehingga langit tampak begitu bersih, sangat cantik. Bintang dan bulan berbentuk sabit begitu indah kala senja itu. Aku, duduk di tepi-an ombak, mendengar suara ombak, dan langit penuh bintang begitu indah. Romantis, sangat. Detik itu pula, aku menangis. Ini seperti rindu yang kutahan jutaan detik lamanya. Ini seperti lelah yang aku rindu untuk kau ejek dan kau hapus sedihnya. Aku menangis, bukan agar kau menenangkanku. Aku tau kau akan bilang “Ah mulai deh lebay” . Iya aku rindu ejekan-mu itu. Teramat rindu.
Ah ia, yang begitu sulit untuk kulupakan. Pesta move-on yang gagal, super gagal. Namun, setidaknya kami sadar, bahwa kami sedang saling melupakan perlahan-lahan. Mengganti banyak hari hari yang pernah kita lalui. Dengan hal lain agar pikiranku lupa akan hari-hari yang pernah kita lalui bersama. Bukankah ketika kita harus memutus silaturahmi, banyak kebetulan bodoh yang membuat aku harus menemuimu. Mungkin kata Allah, kita harus tetap berteman. Hingga akhirnya, kita saling menemukan hati yang baru.
Teruntuk, zombie ajaib.
yg masih sering aku rindukan.